SUMBER-SUMBER SEJARAH BELANDA UNTUK SEJARAH INDONESIA

PENDAHULUAN

Bagi para pelajar sejarah Indonesia, pengetahuan tentang bahasa Belanda dan sumber-sumber Belanda mutlak diperlukan. Hampir semua dokumen resmi dan sebagian besar memoar pribadi serta gambaran mengenai negeri ini, yang muncul selama lima puluh tahun terakhir, tertulis dalam bahasa tersebut. Sudah tentu sumber-sumber dalam bahasa lain penting juga, sebagaimana ditujukkan oleh judul-judul beberapa buku asing. Tetapi sumber berbahasa Belanda harus dianggap sebagai yang utama. Tanpa itu, penelitian mengenai aspek mana pun dari sejarah Indonesia mustahil dilakukan. Bahkan bila bahan-bahan itu sendiri tertulis dalam bahasa lain, Sansekerta atau Jawa Kuno misalnya, peneliti akan mengetahui bahwa komentar yang terbaik, dan seringkali satu-satunya, tentang sumber itu diperoleh dalam bahasa Belanda.

Namun dilihat sepintas lalu, sebagian besar sumber-sumber Belanda mungkin tampak tidak penting kaitannya dengan sejarah Indonesia. Seorang sejarawan Indonesia berhak bertanya: apa peduliku pada berita-berita yang dicatat oleh suatu bangsa lain selain bangsa Indonesia? Laporan-laporan resmi Belanda pasti melukiskan kehidupan serta tindakan orang Belanda, dan bukan orang Indonesia. Laporan itu ditulis dari sudut pandang Eropa, bukan Asia.

Semua itu merupakan keberatan yang menyakinkan, namun jawabannya dapat ditemukan. Pertama-tama, seluruh sumber Belanda saja, yang bersifat naskah dalam tulisan tangan maupun cetakan harus ditekankan artinya. Berjilid-jilid buku bersampul kulit dari berita-berita VOC yang dijajarkan dalam almari Arsip Negara di Den Haag saja sudah berjumlah lebih dari duabelas ribu buah. Berita-berita dari pengganti Kompeni, yaitu Pemerintah Hindia Belanda sebagian diantaranya sudah terjilid, sebagian lainnya masih dalam berkas-berkasnya yang asli sepuluh kali lebih banyak dari jumlah itu. Tentu sangat ganjil jika himpunan yang begitu banyak tidak mengandung penjelasan tentang sekurang-kurangnya beberapa hal yang bersifat non-Eropa. Lagi pula, penjelasan itu tidak dapat diperoleh dari sumber mana pun.

Kedua, para pegawai Belanda di Indonesia sejak masa yang paling awal, mempunyai banyak kepentingan dan tanggung jawab di luar kegiatan-kegiatan perdagangan dan tata usaha sehari-hari. Pada abad ke-17, ketika ketidaktahuan Eropa tentang Asia lebih besar daripada yang ada sekarang, para pegawai VOC harus menyiapkan laporan yang teliti mengenai keadaan di Indonesiabagi para tuannya di Belanda dengan sedikit gambaran tentang keadaan Indonesia, sehingga keputusan yang diambil di Belanda mempunyai dasar yang lebih kokoh daripada dugaan semata. Kemudian, ketika Pemerintah Hindia-Belanda memerintah di seluruh Indonesia, para pegawainya diharuskan memberikan laporan tentang seluruh negeri dan setiap rincian tentang hukum dan kebiasaan setempat yang menarik perhatiannya. Sekali lagi, tujuannya ialah agar kebijakan pemerintah dapat disesuaikan dengan tuntutan tempat dan waktu, dan bukannya secara tidak sengaja diwarnai oleh prasangka atau kesalahpahaman. Umumnya tugas itu dilaksanakan secara lebih cakap oleh para pegawai Belanda di Timur daripada para pegawai negara kolonial manapun. Boleh jadi karena para pegawai Belandalah yang paling terlatih. Laporan mereka yang berjilid-jilid itu kin dapat dipelajari oleh para sejarawan apabila mereka mempunyai keinginan.

Ketiga, meskipun negeri Belanda memilki tanah jajahan yang luas pada hakikatnya hanya merupakan negara yang kecil. “Tanah Jajahan” menggembung lebih besar dalam khayalan orang Belanda daripada, misalnya dalam khayalan orang Inggris atau Perancis. Pada abad ke-19 kalangan terpelajar di Belanda cukup mengetahui permasalahan Indonesia, dan cukup banyak orang Belanda yang memiliki pengalaman pribadi dengan Indonesia. Pada zaman yang sama, tingkat ketidaktahuan orang Inggris dan sikap masa bodoh orang Perancis terhadap urusan jajahan sudah umum dikenal. Pada abad ke-19 juga, ketika Inggris menemukan pasaran terbaik untuk hasil industrinya bukan di tanah jajahannya di masa itu, melainkan di bekas tanah  jajahannya, yaitu Amerika Serikat. Perekonomian Belanda dan Indonesia sebaiknya semakin lama semakin terjalin erat satu sama lain dengan berlalunya abad itu. Akibat dari integrasi yang relative tinggi di bidang budaya dan ekonomi, komentar Belanda terhadap urusan Indonesia biasanya canggih dan tepat, meskipun tidak selalu obyektif. Sumber-sumber Belanda bagi sejarah Indonesia hendaknya ditinjau dalam pertimbangan itu. Dalam arsip-arsip Belanda, para peneliti akan menemukan banyak hal yang hanya penting bagi sejarawan yang menelaah negeri Belanda sendiri, dan lebih banyak lagi yang secara langsung hanya berkenaan dengan aspek-aspek teoritis dari sejarah kolonial. Seorang sejarawan Indonesia modern tidak akan mementingkan kedua hal itu. Tetapi di antara bahan-bahan yang tidak relevan itu, yang harus diakui besar jumlahnya, terselip bahan-bahan sejarah Indonesia yang sebenarnya. Sangat kurang bijaksana jika berdasarkan praduga atau ketidaktahuan sumber-sumber Belanda itu diabaikan, dengan alasan bahwa sumber-sumber itu tidak layak. Rincian sejarah Indonesia dari tahun 1595 sampai 1942 tidak akan dapat ditulis sebelum sumber-sumber tersebut dikaji secara lebih teliti dan lebih sistematis daripada yang mungkin telah dilakukan sampai sekarang.

PEMBAHASAN

  1. 1. Periode Kompeni Hindia Timur (1595-1800)

Dalam menilai mutu suatu dokumen sejarah, seorang sejarawan harus menggunakan ukuran tertentu. Misalnya saja, ia harus mengingat maksud penulisnya, baik yang diketahui maupun yang hanya dapat diduga. Apakah dokumen itu berbentuk propaganda yang dimaksudkan untuk menggelapkan atau mengelabui dan bukan untuk memberikan penjelasan? Apakah penulis memberikan penjelasan yang tidak benar karena ia takut akan hukuman atau cemoohan jika mengemukakan kebenaran? Kalau begitu halnya, dokumen itu dengan sengaja dipalsukan, dan para sejarawan akan tahu bagaimana menilainya. Tetapi mungkin penulis dokumen itu benar-benar tidak mengetahui apa yang dibicarakannya, atau ia menerima berita yang keliru, atau telah membuat tafsiran yang salah atas peristiwa yang ia saksikan. Dalam hal ini, dokumen secara tidak sadar dipalsukan, dan para sejarawan, seperti yang sebelumnya dapat memperhitungkan hal ini.

Kedua, aksioma yang umum disepakati adalah bahwa orang harus tidak begitu saja menganggap bahwa laporan yang diterbitkan lebih dapat diandalkan daripada laporan-laporan yang tidak diterbitkan, asal yang disebut terakhir itu otentik. Sebuah surat diplomatik rahasia akan lebih dapat diandalkan daripada sebuah laporan surat kabar. Sekali lagi, yang menjadi pertimbangan utama di sini ialah tujuan si penulis. Sekali lagi, yang menjadi pertimbangan utama disini ialah tujuan si penulis. Seorang diplomat tidak akan dengan sengaja mengelabui pemerintahannya sendiri, meskipun berita yang disampaikannya tidak enak didengar. Tetapi seorang redaktur suratkabar mungkin saja mencetak kebohongan dengan sengaja. Boleh jadi bukti sejarah yang sempurna adalah sebuah buku harian yang tersimpan, yang tidak pernah dimaksudkan untuk dibaca orang lain kecuali si penulis sendiri.

Diukur dengan ukuran-ukuran itu, catatan-catatan Kompeni Hindia Timur Belanda memiliki nilai. Sebagai sebuah organisasi yang tertutup, Kompeni tidak pernah mengizinkan urusannya dibicarakan di muka umum, sampai akhir riwayatnya ketika oragnisasi tersebut terpaksa berbuat begitu karena bangkrut. Selama keberadaannya, Kompeni bertindak secara independent dari pemerintah Belanda di tanah air yang hanya sedikit mempunyai pengawasan terhadap kebijakan umumnya dan sama sekali tidak mempunyai pengawasan terhadap rincian pelaksanaan kebijakan tersebut. Karena itu, unsure propaganda sama sekali tidak ada dalam berita-berita Kompeni. Karena tidak pernah ada masalah yang menyangkut penerbitan kecuali jika Kompeni menghendakinya, tidak ada kekhawatiran akan pendapat umum. Jika ribuan orang Jawa mati karena wabah kelaparan, jika sebuah pasukan ekspedisi hampir musnah karena kesalahan panglimanya, dengan patuh fakta itu dilaporkan ke Belanda, tetapi tidak pernah diumumkan. Bangsa Belanda hanya mengetahui tentang Indonesia sebatas yang dinggap perlu diketahui oleh Kompeni.

Garis argument ini tentu saja tidak dapat ditarik terlalu jauh. Meskipun para pegawai Kompeni dalam menyampaikan laporan tidak perlu berhati-hati terhadap sensor masyarakat, mereka harus bertanggung jawab kepada atasannya; padahal para direktur Kompeni di Amsterdam, bukanlah majikan yang lunak. Itulah alasan mengapa hanya sedikit terdapat keterangan rinci dalam laporan-laporan Kompeni, atau dalam laporan lain yang mana pun, mengenai soal-soal seperti luas jangkauan perdagangan swasta atau besar uang suap yang diketahui telah diterima oleh raja pegawai Kompeni dari para pedagang Asia dan para raja Indonesia.

Hal ini diperkuat lagi kalau kita ingat akan maksud-maksud orang Belanda merambah daerah Timur. Sebelum abad ke-19, satu-satunya kepentingan mereka adalah perdagangan. Mereka tidak mengajukan teori-teori tentang penjajahan, mereka tidak mempunyai doktrin tentang keunggulan ras. Meskipun termasuk golongan Calvinis yang taat, mereka tidak berhasrat mengkristenkan “orang-orang Moor”. Mereka adalah saudagar, bukan pejuang perang salib. Berbeda dari orang Portugis, mereka tidak pernah membiarkan prasangka keagamaannya menghalangi keuntungan perdagangannya.

Akhirnya, catatan-catatan berita dari Kompeni boleh dipuji karena nilainya sebagai bahan penegecekan kronik asli Indonesia. Para pujangga di kerajaan-kerajaan Indonesia jarang sekali merasa perlu mencantumkan keterangan waktu yang tepat, sekalipun untuk peristiwa yang jelas-jelas penting seperti meninggalnya seorang sultan atau lahirnya seorang putra mahkota. Dalam kronik Indonesia mungkin terdapat uraian yang terinci mengenai peristiwa itu sendiri, tetapi gambaran modern dari orang Belanda, meski mengisahkan peristiwa yang sama secara lebih singkat, akan memberikan keterangan tentang tempat dan waktu yang tepat. Tambahan pula, dari berita-berita Belanda kadang kala dapat ditentukan apakah seorang pujangga kerajaan menyatakan kebenaran atau sebaliknya. Sebagaimana umum diketahui, kronik kerajaan Indonesia harus sering menghilangkan fakta sejarah masa lalu jika itu tidak menyenangkan tuannya yang sekarang. Pegawai Kompeni Belanda tentu saja tidak menemui halangan seperti itu.

A. Manuskrip

Catatan-catatan naskah Kompeni Hindia Timur Belanda yang dikenal dengan “Kolonial Archief, 1594-1803”, disimpan Arsip Negara, Den Haag. Setengah dari isinya hanya menyangkut masalah dalam negeri belanda dan pabrik-pabrik Kompeni Hindia Timur Belanda.

Mengenai Indonesia, berkas-berkas yang bernilai adalah sebagai berikut:

  1. catatan-catatan Voorcompagnien (jilid 1-107). Adalah surat-surat mengenai apa yang disebut “wilde vaart” belanda diperairan Indonesia dan tempat lain antara tahun 1595 (yaitu tahun perjalanan pertama Cornelis De Houtman) dan tahun 1602 (Tahun pembentukan Hindia Timur).
  2. arsip urusan rumah tangga dan perdagangan dewan perniagaan Amsterdam (jilid 108-494, 4386-4453 dan 448-4464). Arsip ini meliputi notulen rapat “tujuh belas tuan,” keputusan badan itu, notulen rapat Dewan perniagaan Amsterdam, dan surat serta instruksi yang dikirimkan oleh tujuh belas tuan kepada bawahan mereka di timur.
  3. keputusan gubernur jendral dan dewan hindia (jilid 558-743). Disini ditemukan naskah keputusan gubernur jendral dalam sidang dewan sejak tanggal 30 november 1613 sampai 31 desember 1971.
  4. buku-buku surat pemerintah tertinggi di Batavia (jilid 744-955). Yang terdiri dari tembusan surat, perintah dan instruksi yang dikirim oleh gubernur jendral di dewan kepada pemerintah bawahan di seluruh Indonesia.
  5. “brieven en papieren overgekomen, 1602-1794” (jilid 906-3877) yang merupakan bagian paling berharga dalam Kolonial Archief untuk sejarawan umum tentang Indonesia.

Pertama yang paling berharga adalah “generale missiven” laporan laporan yang dibuat teratur tentang keadaan harta milik Belanda di dunia timur. Mengan dung bagian mengenai bermacam-macam pabrik di daerah taklukan yang jauh, ikhtisar tetang kedudukan dan prospek keuangan kompeni secara keseluruhan.

Kedua, “Brieven Overgekomen” berisi tembusan surat yang diterima oleh gubernur jendral dalam kedudukannya di dewan dari bawahannya. Mulai tahun 1611 naskah-naskah tersebut di kumpulkan dalm jilid tahunan dalm judul “Batavia’s Inkomende Briefboek”. Julah jilid untuk setiap tahun tetap sama, yaitu sejumlah lima atau enam buah sampai tahun 1675, selanjutnya bertambah mejadi tiga puluh atau lebih sejak tahun 1730. sering amat sulit untuk membaca berita tulisan tangan kompeni dan sulit lagi untuk memahaminya. Awal abad ke-17, aksara gothic biasa dipakai di belanda. Pada masa itu banyak dipakai singakatan steno, dan huruf capital ditulis dalam bermacam-macam cara. Kalimat terlalu panjang, subyek dihilangkan, dan tanda baca sering dihilangkan atau tidak beraturan. Dibandingkan dengan tulisan tangan abad ke-17, tulisan tangan abad ke-18 lebih mudah dibaca.

B. Terbitan

Bahan sejarah “primer” maupun “sekunder” tidak dapat dibedakan dengan tegas. Isi tergantung pada masa penulisannya, subyek yang ditinjau, dan sudut pandangnya. Dengan demikian, jelaslah bahwa semua yang tertulis dalam bahasa belanda tentang Indonesia, besar kemungkinan memiliki signifikasi utama bagi beberapa orang sejarawan modern. Kemungkinan tidak mungkin mendaftar semua sumber seperti itu disini. Kumpulan dokumen ini merupakan titik awal terbaik untuk melakukan penelitian.

  1. J.K.J de jonge dan lain-lainnya, ed., De opkomst van het nederlandsch gezag in oost-indie: versameling van onuitgegevene stukken uit het oud-koloniaal archief (1595-1814). Karya penting ini diterbitkan antara tahun 1862 dan 1909 dalam dua seri. Sei pertama terdiri dari dokumen-dokumen yang berhubungan dengan penjelajahan sebelum V.O.C. dan perluasan pengaruh belanda di jawa. Seri kedua, disunting oleh P.A. tiele dan J.E Heeres, dan diberi judul tambahan: bouwstoffen voor de geschiedenis der nederlanders in den maleischen archipel. Seri ini membicarakan harta milik kompeni di Indonesia di luar jawa. Kumpulan ini mempunyai satu kelemahan. Banyak dokumen hanya disampaikan dalam bentuk intsarinya saja, dipakai oleh para editor dalam melakukan seleksi.
  2. J.A van der chijs dan lai-lainnya, ed., Dagh-register gehouen int casstel Batavia. Seri ini merupakan reproduksi dari buku harian markas besar kompeni hindia timur belanda di Batavia, antara 1624-1682. dalam dag register segala macam keterangan dicampur menjadi satu. Pernyataan-pernyataan tentang kebijakan pada masa mendatang dimuat, bersama dengan alasan-alasan yang mendasari keputusan yang diambil.
  3. J.E Heeres dan F.W Stapel, ed., Corpus diplomaticum neerlandico-indicum. Dalm seri ini dikumpulkan semua kontrak, perjanjian dan traktat yang diadakan oleh kompeni hindia timur belanda disatu pihak dan para raja asia yang mengadakan hubunagn dagang di lain pihak. Tambahan pula, dari syarat-syarat kontrak monopoli dapat disimpulkan tentang situasi ekonomi kerajaan-kerajaan yang membuat kontrak-kontrak kemakmurannya, produknya dan bahkan tingkat kelihaian dagang dan politik para penguasanya.
  4. H.T. Colenbrander dan W.Ph. coolhaas, ed., jan pietersz coen: bescheiden omtrent zijn bedrijf in indie. Kumpulan ini lebih luas jangkauanya dari pada yang mungkin dapat disimpulkan dari judulnya. Yang dijadikan criteria dalam kumpulan ini adalah bahwa dokumen tersebut berasal dari atau tertuju kepada J.P Coen dan panitia serta dewan dimana Coen mejadi anggotanya.
  5. Pieter van Dam, adalah sekertaris kantor pusat kompeni hindia timur belanda di Amsterdam tahun 1652 sampai 1706. Van Dam diberikan tugas oleh Tujuh belas tuan untuk menulis “gambaran yang pasti dan tepat” mengenai cara-cara administrasi dan perdagangan kompeni. Hasilnya adalah Beschryvinge yang monumental tersebut.
  6. Werken uitgegeven door de linschoten-vereeninging. Menerbitkan cetak ulang perjalanan bangsa belanda pada tahun 1909 dan sampai kini telah mencapai 50 jilid. Kira-kira sepertiganya langsung berhubungan dengan Indonesia, teksnya mudah dipahami karena dilengkapi dengan indeks yang amat bagus. Dengan indeks ini Banyak masalah mengenai identifikasi nama tempat, ketentuan mengenai berat dan ukuran serta nilai relative dari berbagai mata uang local yang berbeda-beda, dapat dipecahkan dengan memuaskan.

Periode Pemerintahan Hindia Belanda, (1816-1942)

Sampai kini, kita hanya meninjau sumber-sumber untuk sejarah Indonesia sebagaimana yang sampai kepada kita dari zaman Kompeni Hindia Timur Belanda. Pada akhir abad ke-18 Kompeni mundur dengan cepat. Kompeni tidak berhasil mengatasi pukulan-pukulan di bidang keuangan yang dideritanya selama Perang Inggris-Belanda pada tahun 1780-1784. Pada tahun 1796 para direkturnya terpaksa menyerahkan kekuasaan mereka kepada sebuah panitia yang dibentuk oleh kaum revolusioner pro-Perancis, yang telah merebut kekuasaan di negeri Belanda pada tahun sebelum itu, dan pada tanggal 31 Desember 1799 Kompeni dibubarkan.

Dalam jangka waktu enam belas tahun setelah itu, bangsa Perancis dan Inggris menguasai harta milik Belanda di Indonesia. Sampai tahun 1811 bangsa Belanda secara nominal masih memerintah In­donesia, tetapi penguasa yang sebenarnya dari Kepulauan Hindia dan juga negeri Belanda sendiri adalah Napoleon.

Pada bulan September tahun 1811, Jawa jatuh ke tangan Inggris sampai tahun 1816, di mana seluruh bekas milik Belanda di kepulauan tersebut dikembalikan kepada Belanda, sesuai dengan Konvensi London. “Pemerintah Hindia Belanda” dilantik di Batavia pada 19 Agustus 1816, dan tetap memegang kekuasaan Belanda di In­donesia sampai saat mereka diusir Jepang pada tahun 1942.

Pemerintah baru itu membawa Indonesia ke suatu jenis tata pemerintahan yang lain dari semua jenis tata pemerintahan yang pernah ada di negeri ini sebelumnya. Kompeni Hindia Timur merupakan perusahaan dagang yang mengejar laba, yang hanya memikirkan transaksi jual beli dengan mengesampingkan apa saja. Kompeni tidak memiliki misi budaya (mission civilisatrice), tidak berhasrat melakukan campur tangan dalam tata cara hidup rakyat yang diajak berniaga. Ia memang mendorong produksi bahan ekspor, tetapi kecuali dalam hal kopi dan gula di Jawa sampai jumlah terbatas ia tidak mengaturnya. Sebaliknya, Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 dan ke-20 merupakan usahawan besar. Di bawah pengawasannya, In­donesia lambat laun diubah menjadi sebuah mesin produksi model Barat. Dalam proses itu mulai diperkenalkan perkebunan, dinas-dinas sosial dan sedikit industrialisasi, sedangkan berbagai peraturan serta ordonansi pemerintah mulai melibatkan jutaan penduduk Indonesia, yang nenek moyangnya hampir tidak menyadari kehadiran Kompeni Hindia Timur Belanda.

Perubahan ini tercermin dalam berbagai laporan administrasi Pemerintah Hindia Belanda. Dalam zaman Kompeni orang dapat membedakan dengan jelas antara dokumen yang berhubungan dengan Kompeni sendiri dan dokumen yang berkenaan dengan sejarah asli Indonesia; sementara catatan-catatan resmi sejak tahun 1816 bukan saja campur baur isinya, tetapi juga lebih luas jangkauannya. Peran Kompeni dalam urusan-urusan Indonesia pada umumnya sebagai pihak luar; hanya dengan enggan sekali Kompeni akhirnya bersedia menjadi pemain. Di sisi lain, Pemerintah Hindia Belanda adalah “Negara.” Hanya sedikit peristiwa yang terjadi di negeri ini, dari pembangunan mesjid sampai penggalian sumur desa, yang lambat laun tidak berada di bawah pengawasannya. Sebagai akibatnya, berita-beritanya berhubungan dengan setiap aspek kehidupan politik, ekonomi, dan sosial Indonesia.

Sumber-sumber nonpemerintah memiliki keadaan yang sama. Sejak abad ke-17 dan ke-18, hanya sedikit bahan yang selamat, kecuali dokumen-dokumen Kompeni Hindia Timur, karena Kompeni adalah satu-satunya organisasi Belanda yang aktif di wilayah itu. Tetapi pada abad ke-19 dan ke-20 muncul semua jenis badan hukum non­pemerintah: perusahaan dagang, serikat buruh, partai politik, bank, perusahaan asuransi, maskapai pelayaran, perusahaan tambang, kantor impor dan ekspor, sekolah, perkumpulan misionaris, dan sebagainya. Bagian terbesar di antaranya adalah organisasi orang Belan­da, atau setidaknya yang menggunakan bahasa Belanda. Semuanya mempunyai hubungan erat dengan hal ihwal Indonesia, dan laporan-laporan mereka harus dianggap sebagai bahan-bahan sumber Belanda asli untuk sejarah Indonesia.

Tidak praktis untuk mendaftar seluruh bahan semacam itu. Karena itu, tujuan bab berikut pertama-tama adalah menggambarkan catatan-catatan tertulis dari Pemerintah Hindia Belanda (dalam Arsip Negara, Den Haag); kedua, untuk meminta perhatian sejenak bagi terbitan-terbitan resmi yang penting dari periode 1816-1942; dan ketiga, untuk menunjukkan dua buah sarana riset yang dapat membantu untuk mendapatkan pengetahuan tentang sumber-sumber nonpemerintah.

A. Manuskrip

Arsip-arsip bekas Kementrian Urusan Jajahan terbagi atas dua seksi utama: arsip Kementerian itu sendiri dan salinan terjemahan-terjemahan Pemerintah Hindia Belanda yang dikirimkan ke negeri Be­landa dari Batavia.

1. Berita-berita Kementrian Urusan Daerah Jajahan

Seri yang terkenal dengan nama Gewoon Archief (Arsip Biasa) ini, meliputi surat-surat yang keluar dan masuk rehari-hari dari Kementrian ini tentang semua masalah yang pada waktu itu tidak dianggap bersifat rahasia. Berkas sejumlah 1906 buah yang meliputi jangka waktu 1814-1849 ditempatkan di dalam gudang utama di Bleijenburg, Den Haag. Berkas-berkas tentang tahun 1850-1900 (berjumlah 5250 buah) disimpan dalam sebuah gudang tambahan di Schaarsbergen, dekat Arnhem, tetapi dapat digunakan di Den Haag berdasarkan surat izin. Berkas-berkas Kementrian tentang masa sesudah tahun 1900 tidak terbuka untuk umum.

Yang lebih penting bagi para sejarawan Indonesia ialah Geheim Archief (Arsip Rahasia). Pada abad ke-19 banyak masalah yang digolongkan rahasia, yang sekarang dalam keadaan yang sama tidak akan dimasukkan ke dalam jenis itu. Karena itu, Geheim Archief lebih kaya dalam segi penjelasan umum dibandingkan dengan yang mungkin terbayang melalui namanya. Antara lain terkandung di dalamnya pembahasan mengenai rancangan kebijakan, pernyataan pendapat mengenai tindakan pemerintah pada masa lampau, dan uraian ten­tang perundingan dengan negara dan orang asing. Memang, rupanya segala sesuatu yang seandainya diumumkan akan dapat menyulitkan pemerintah, telah dimasukkan ke dalam Geheim Arhief dan bukannya Gewoon Archief. Tentu saja hal itu menyebabkan orang menduga bahwa yang tersebut pertama lebih dapat diandalkan karena merupakan sumber yang lebih bebas pengungkapannya.

Berkas-berkas lain dari Kementrian Urusan Jajahan yang bertahan dengan sejarah Indonesia mencakup Kabinetsarchief, yang memuat keterangan mengenai transaksi dan keputusan pribadi para Menteri Urusan Jajahan.

2. Berkas-berkas Pemerintah Hindia Belanda

“Dekrit Hindia Timur” di mana termuat transaksi-transaksi Pemerintah Hindia Belanda, ter­bagi ke dalam empat sub-judul. Pertama, dibagi menjadi dekrit “biasa” dan dekrit “rahasia”; kedua, dibagi menjadi dekrit Gubernur Jendral dalam kedudukannya di dewan (“in Rade”) dan dekrit Gubernur-Jenderal yang bertindak dalam kedudukannya sendiri (“buiten Rade”). Dengan Regeeringsreglement tahun 1836, Dewan Hindia (“Raad van Indie”) dilucuti fungsi eksekutifnya dan menjadi badan penasihat saja. Karenanya, sejak itu semua dekrit dikeluarkan oleh Gubernur Jendral sendiri. Tetapi, sebelum tahun 1836 Gubernur Jen­dral diberi kuasa untuk mengambil keputusan atas tauggung jawabnya sendiri dalam beberapa hal, tetapi tidak dalam semua hal. Ka­rena itu dekrit-dekrit yang muncul sampai tahun 1836 keluar di bawah dua sub-judul: “in Rade” dan “buiten Rade.”

Berikut ini adalah daftar dari pelbagai koleksi Dekrit Hindia Timur, dan sebagaimana yang di bagi-bagi dalam Arsip Negara:

  • Surat-Surat  dari   Komisaris  Jenderal   Hindia   Belanda,  1816-1828; Transaksi dan Dekrit Komisaris Jendral Hindia Belanda, 1816-1817 dan  1826-1828;  Dekrit Rahasia Komisaris Jendral Hindia Belanda, 1816-1819.
  • Dekrit Gubernur Jendral Hindia  Belanda  Bersama Dewan, 1819-1836. Dekrit Rahasia Gubernur Jendral Hindia Belanda Bersama Dewan, 1819-1834.

B. Terbitan Resmi

Laporan tahunan Pemerintah Hindia Belanda kepada Majelis Perwakilan Tinggi yang dikenal dengan nama Koloniale Verslagen, terbit sebagai pelengkap bagi Staatscourant (diterbitkan di Belanda) sejak tahun 1851/2 dan seterusnya. Fakta dan angka resmi serta rincian Undang-undang, ordonansi dan peraturan pemerintah yang dapat diterapkan di Indonesia, dapat diperoleh uari Almanak van Neder­landsch-Indie dan Staatsblad van Nederlandsch-Indie, Bijblad op het Staatsblad van Nederlandsch-Indie serta Javasche Courant. Pengumuman anggaran belanja, perdebatan soal jajahan, pernyataan tentang ke­bijakan pemerintah, dan banyak informasi kecil lainnya, dapat ditemukan dalam Handelingen der 1e en 2e Kamer der Staten-Generaal (Laporan tantang Perdebatan Parlemen). Handelingen van den Volk-sraad, (Transaksi-Transaksi Dewan Rakyat), diterbitkan sejak tahun 1918 dan seterusnya, yakni tahun pelantikan Volksraad atau Par­lemen Hindia Belanda. Banyak bahan untuk sejarah hukum, sejarah sosial dan sejarah ekonomi dapat juga ditemukan dalam laporan tahunan pelbagai kementrian Pemerintah Hindia Belanda.

C. Sarana Bantu Pendidikan

Akhirnya dapat disebutkan dua terbitan yang bersama-sama memberi uraian yang boleh dikatakan lengkap tentang sumber-sumber tercetak mengenai sejarah Indonesia yang ada dalam bahasa Belanda. Keduanya mendaftar bahan sekunder maupun primer, tetapi referensi yang diberikan cukup terinci sehingga pada umumnya memungkinkan kita untuk membedakan yang satu dari yang lainnya.

Yang. pertama adalah Gitalogus der Koloniale Bibliotheek van het Koninklijk Instituut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde van Nederlandsch-Indie en het Indisch Genootschap (4 jilid, 1908-1937). Dalam katalog ini disebut hampir seluruh terbitan sejarah tentang jajahan Belanda yang muncul sampai tahun 1935. Karena itu katalog ini dapat dianggap sebagai bibliografi sejarah Indonesia yang hampir lengkap yang ditulis sampai tahun itu.

Alat bantu penelitian tambahan yang bernilai adalah J.C. Hooykaas dan lain-lain, ed., Repertorium op de koloniale littcratuur (11 jilid, 1877-1935). Karya ini merupakan catalogue raisonne dari semua artikel dalam berbagai majalah, jurnal, dan transaksi perkumpulan-perkumpulan ilmiah yang berkenaan dengan wilayah Belanda di seberang lautan, dan diterbitkan dalam wilayah itu atau di negeri Belanda antara tahun 1595-1932. Kepustakaan majalah Belanda memuat bahan-bahan rujukan asli secara melimpah ruah. Dalam majalah il­miah yang daftar namanya terdapat di dalam Repertorium, terdapat banyak terjemahan kronik Indonesia, berbagai kumpulan dokumen, dan laporan serta notulen asli dari banyak konperensi dan komisi penyelidik pemerintah.

Dalam analisis tersebut, tujuan kami ialah menggambarkan sum­ber-sumber sejarah Indonesia yang tertulis dalam bahasa Belanda. Karena sifat hubungan antara Belanda dengan Indonesia selama tiga setengah abad yang lalu, sejumlah besar sumber itu tampak terlalu “Eropa-Sentris”, dan dilihat dalam konteks sekarang tampak bersifat memihak secara menyakitkan, Tetapi, sebagaimana dikemukakan tadi, akan celaka akibatnya seandainya sumber-sumber tersebut dianggap remeh hanya karena alasan itu. Tugas para sejarawan tentang sejarah Indonesia modern terhadap sumber-sumber Belanda adalah memisahkan emas dari loyang. la akan menyadari bahwa tugas itu memberi kepuasan, meskipun menuntut banyak tenaga dan pikiran.

PENUTUP

Penulisan sejarah Indonesia yang dirasakan dalam dekade ini amat jauh dari kondisi yang diharapkan. Hal ini terpancar ketika penulisan sejarah memfokuskan diri kepada sebuah ruangan yang disebut dengan istilah Historiografi Konvensional.

Oleh karena motivasinya adalah sebagai bahan laporan maka yang ditulisnya pun adalah sejarah dan perkembangan orang-orang asing di daerah kolonial khususnya Indonesia. Sangat sedikit hasil historiografi kolonial yang menceritakan tentang kondisi rakyat jajahan, atau bahkan mungkin tidak ada. Toh, kalau pun tercatat, orang pribumi itu sangat dekat hubungannya dengan orang asing dan yang telah berjasa pada Pemerintah Kolonial.

Selain itu, ciri dari historiografi kolonial masa Hindia Belanda adalah memiliki sifat Europa-Centrisme atau yang lebih fokusnya adalah Neerlando-Centrsime. Boleh dikatakan bahwa sifat ini memusatkan perhatiannya kepada sejarah bangsa Belanda dalam perantauannya, baik dalam pelayarannya maupun permukimannya di benua lain. Jadi yang primer ialah riwayat perantauan atau kolonisasi bangsa Belanda, sedangkan peristiwa-peristiwa sekitar bangsa Indonesia sendiri menjadi sekunder.

DAFTAR PUSTAKA

Soedjatmoko. 1995. Historiografi Indonesia: Sebuah Pengantar. Jakarta:    Gramedia Pustaka Utama.

Sartono Kartodirdjo. 1968. Beberapa Fatsal dari Historiografi Indonesia.   Yogyakarta: Kanisius.

Okta, Doni. 2007. Historiografi Tanah Melayu Pewarna Sejarah Nasional Indonesia. “Makalah Disampaikan Pada Seminar Nasional Ikatan Himpunan Mahasiswa Sejarah Se-Indonesia (IKAHIMSI)”. Semarang: UNNES.

Iklan

~ oleh fandyharwinanto pada 28 Januari 2010.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: