REVOLUSI SOSIAL DI SUMATERA TIMUR

Pengantar…

Pada tanggal 3 Maret 1946 tengah malam meletuslah “Revolusi Sosial” di berbagai wilayah di Sumatera Timur. Dipelopori oleh PESINDO/ PKI, Istana diserbu dan dirampok, beberapa orang raja dan kaum bangsawan dibunuh. Dalam peristiwa ini, dendam pribadi turut membonceng. Seteru dicap “kaki tangan NICA” dan dibunuh. Terror berkecamuk di wilayah NRI yang makmur ini. Dalam kesempatan ini, rencana PKI pararel dengan rencana NICA, yaitu menimbulkan anarki di wilayah NRI. Hanya Istana Serdang yang tidak diserbu. Pada malam itu, Panglima TKR, Kolonel A. Tahir yang sedang rapat staf, menerima telpon dari TKR Pematang bahwa terror telah meletus dan raja-raja telah dibunuh PKI. Kolonel Tahir segera memerintahkan Kapten Tengku Nurdin (Komandan Batalyon TKR di Melati) agar mengambil alih pengwalan keratin kota Galuh di Perbaungan. (Zainudin, A. Rachman. 1997: 148)
Jutaan nyawa para bangsawan di Sumatera Timur harus dicabut paksa ditangan gerombololan Revolusi yang mengatasnakaman pro-Republik Indonesia. Mereka menyebutkan bahwa para Sultan, Raja, Datuk ataupun Tuan adalah musuh perjuangan Rakyat Republik Indonesia. Benteng Feodalisme harus dihancurkan dari Sumatera Timur.
Tanggal 3 Maret 1946, Revolusi Sosial di Sumatera Timur kemudian pecah. Aksi massa Pesindo, PNI dan PKI melakukan revolusi (pemberontakan) besar-besaran secara biadab dan serempak di Sumatera Timur, membumihanguskan istana-istana kerajaan, memburu para kaum bangsawan , menculik dan lalu dibunuh. Mereka menyebutkan bahwa para Sultan, Raja, Datuk ataupun Tuan adalah musuh perjuangan Rakyat Republik Indonesia. Benteng Feodalisme harus dihancurkan dari Sumatera Timur. Tanggal 6 Maret 1946, Wakil Gubernur Dr. Amir secara resmi mengangkat M. Joenoes Nasoetion sebagai Residen Sumatera Timur.

Bagaimanakah langkah yang ditempuh oleh Dr. Amir dan M. Joenoes Nasution untuk memobilisasi massa di daerah Sumatera Timur?

Pada tanggal 5 Maret Wakil Gubernur Mr. Amir mengeluarkan pengumuman: Bahwa gerakan itu suatu “Revolusi Sosial”, Supaya korban Revolusi Sosial itu harus diminimalisir, Residen Sumatera Timur dipimpin oleh Yunus Nasution untuk sementara waktu yang bekerjasama dengan BP.KNI maupun Volksfront, dan Mr. Luat Siregar diangkat menjadi Juru Damai (Pacifikator) untuk seluruh wilayah Sumatera Timur dengan kewenangan seluas-luasnya. (Zainudin, A. Rachman: 152-153)
Rupa-rupanya Dr. Amir dan M. Joenoes Nasution telah merekayasa pergerakan rakyat sedemikian rupa untuk memuluskan perjuangan rakyat, terwujudnya pemerintahan Republik Indonesia yang berdaulat di Sumatera. Merangsang perjuangan rakyat dengan membumihanguskan benteng feodalisme (kerajaan-kerajaan di Sumatera Timur), membabat habis keturunan Sultan, Datuk, Raja, Tuan, dan menggantikan kekuasaannya menjadi kekuatan rakyat.
Akhirnya dengan mulus, gerakan revolusi memaksa penghapusan otonomi kekuasaan Sultan, Raja dan Tuan di Sumatera Timur secara resmi diproklamirkan. Revolusi sosial menyisakan cerita pembantaian jutaan nyawa, pemenggalan jutaan kepala di Sumatera Timur. Keterlibatan aktivis Partai Komunis dalam revolusi sosial di Sumatera Timur memberikan kontribusi besar. Terlebih lagi Ketua PKI Sumatera Timur waktu itu (M. Joenoes Nasoetion) kemudian diangkat langsung oleh Wakil Gubernur Sumatera Dr. Amir sebagai Residen Sumatera Timur, sehingga revolusi ini terus berlangsung sekian waktu. Tentara pemerintah Republik Indonesia waktu itu tidak dapat berbuat banyak. Pergerakan aktivis pro-kemerdekaan yang semula teroganisir malah menjadi brutal sehingga kekacauanpun terjadi di seluruh Sumatera Timur. Aksi revolusi sosial di Sumatera Timur sedikit mencoreng perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia di mata Internasional.

Buku Referensi
1) Johan, Bahder. 1980 . Pengabdi Kemanusiaan. Jakarta: Gunung Agung
2) Zainudin, A. Rachman. 1997. Denyut Nadi Revolusi Indonesia. Jakarta: Gramedia
3) Hasjmy, A. 1985. Semangat Merdeka. Jakarta: Bulan Bintang

Iklan

~ oleh fandyharwinanto pada 25 Maret 2010.

4 Tanggapan to “REVOLUSI SOSIAL DI SUMATERA TIMUR”

  1. salam, izinkan sy bertanya.. adakah revolusi sosial ini juga mempunyai istilah-istilah yg lain seperti revolusi pemuda atau lain2?? terima kasih ya.

    • salam hangat juga mas madi–
      maaf sblumnya baru bisa membalas p’tanyaan anda skrg.
      Revolusi Sosial ini tidak ada kaitan sama sekali dengan istilah Revolusi Pemuda, hal ini karena revolusi pemuda memiliki karakteristk tersendiri baik pelaku maupun kurun waktunya. Sumber-sumbernya pun berbeda.

  2. Salam Pak Fandy,,pd kesempatan ini sya hanya mengucapakan terima kasih atas cerita sejarah ini,krn selama ini Revolusi sosial atau Ganyang Feodal yg sya ketahui hanya di lakukan oleh Pejuang rakyat saja dgn Alasan perubahan sistem pemerintahan dari Republik ke kerajaana dan mengangap raja merupakan kaki tangan Belanda,tp dari artikel ini klu boleh sya menafsirkan strategi Perebutan kekuasaan yg di motori oleh Pesindo/ PKI, karena PKI takut akan pengaruh / kekuasaan Raja, untuk berkuasa penuh di negara ini pd waktu itu.pendahulu sya yg mengalami langsung kekejaman revolusi sosial T Harun & TM Arifin,,hingga mereka menutup sejarah siapa mrk & kerajaan Mrk kpd cucu2nya.

    Hormat sya
    T M Haris Bin T Indrasyah Bin T Harun Bin TM Arifin ( Raja ke X dari Kerajaan Karang- Tamiang 1920 – 1945).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: